Selasa, 23 Oktober 2012
Rabu, 10 Oktober 2012
Sejarah Persib Bandung
Ketika pertama kali didirikan sekitar tahun 1923, Persib dikenal dengan nama Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond [BIVB] yang merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega di depan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan di luar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara Jakarta.Pada tanggal 19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB [Persebaya], MIVB [sekarang PPSM Magelang], MVB [PSM Madiun], VVB [Persis Solo], PSM [PSIM Yogyakarta] turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta.
BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia, yakni Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung [PSIB] dan National Voetball Bond [NVB]. Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib.
Di Bandung pada masa itu juga sudah berdiri perkumpulan sepakbola yang dimotori orang-orang Belanda, yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken [VBBO]. Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib, dan dianggap perkumpulan kelas dua. Persib memenangkan perang dingin dan menjadi perkumpulan sepakbola satu-satunya di Bandung dan sekitarnya.
Klub-klub yang tadinya bernaung dibawah VBBO seperti UNI dan Sidolig pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding, yakni Lapangan UNI dan Sidolig [kini Stadion Persib], dan Lapangan Sparta [kini Stadion Siliwangi].
Sebagai tim yang dikenal tangguh, Persib juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik junior maupun senior.
Prestasi
Perserikatan
1933: Runner-up
1934: Runner-up
1936: Runner-up
1937: Juara
1950: Runner-up
1959: Runner-up
1960: Runner-up
1982/83: Runner-up
1984/85: Runner-up
1961: Juara
1986: Juara
1990: Juara
1993/94: Juara
Liga Indonesia1994/95: Juara
1995/96: 12 Besar
1996/97: Delapan Besar
1997/98: kompetisi dihentikan
1998/99: Peringkat ke-3 (Tiga Wilayah Sub Grup)
1999/00: Peringkat ke-8 Wilayah Barat
2001: Delapan Besar
2002: Peringkat ke-9 Wilayah Barat
2003: Juara Grup Play-Off (lolos dari degradasi)
2004: Peringkat ke-6
2005: Peringkat ke-5 Wilayah Barat
2006: Peringkat 12 Wilayah Barat
2007: Peringkat 5 Wilayah Barat
Superliga Indonesia
2008/09: Peringkat ke-3
2009/10: Peringkat ke-4
2010/11: Peringkat ke-7
2011/12: Peringkat ke-8
Kompetisi Lainnya
1991: Juara Piala Persija
1995: Perempat-Final Piala Champions Asia (Asian Club Championship)
2008: Juara Piala Kang Dada
El CLASICO Indonesia
El Clasico memang indentik dengan pertandingan antara Real Madrid VS Barcelona, daya tarik untuk menonton pertandingan tersebut memang luar biasa. Bahkan masyrakat di dunia pun sangat menantikan pertandingan ini setiap musimnya, selain berjalan seru, keras, dan kadang terjadi adu tegang antar pemain, ini membuat atmosfer pertandinganmu semakin panas. Sederet pemain-pemain timnas dan mantan timnas bernaung di kedua klub tersebut dan juga sederetan pemain-pemain muda berbakat. Tak hanya itu, atmosfer lain juga cukup sinergik yakni Suporternya, kedua suporternya memang saling bermusuhan, namun kalo sudah laga el clasico stadion penuh dengan ribuan suporter yang ingin menyaksikkan laga elclasico.
Jika di Spanyol ada laga el clasico yang mempertemukan antara Barcelona vs Real Madrid, di Indonesia ada pertandingan el clasico versi Indonesia yakni pertandingan antara Persib Bandung vs Persija Jakarta.
Pertandingan super bigmatch Indonesia Super League antara Persib Bandung vs Persija Jakarta atau sebaliknya Persija Jakarta vs Persib Bandung memang terasa berbeda dengan pertandingan Indonesia Super League lainnya, mengapa berbeda?
Karena pertandingan ini memang kental dengan adu gengsi antar klub yang sudah asam garam di dunia persepakbolaan indonesia, mulai zaman perserikatan hingga sekarang. Konflik antar dua suporter dari masing-masing klub sering membuat pertandingan ini semakin memanas. Kedua klub sama-sama memiliki pemain-pemain berkualitas mulai dari pemain timnas junior, pemain timnas senir hingga mantan timnas sama-sama bermain untuk meraih kemenangan untuk menjaga nama baik klub yang dibelanya.
Kedua klub memiliki suporter fanatik dan memiliki animo yang tinggi saat klubnya bermain di kandangnya, apalagi saat pertandingan El Clasico ini berlangsung, ribuan orang suporter pun berdatangan ke stadion hingga terkadang melebihi jumlah maksimal tempat duduk penonton di stadion.
Jika di Spanyol ada laga el clasico yang mempertemukan antara Barcelona vs Real Madrid, di Indonesia ada pertandingan el clasico versi Indonesia yakni pertandingan antara Persib Bandung vs Persija Jakarta.
Pertandingan super bigmatch Indonesia Super League antara Persib Bandung vs Persija Jakarta atau sebaliknya Persija Jakarta vs Persib Bandung memang terasa berbeda dengan pertandingan Indonesia Super League lainnya, mengapa berbeda?
Karena pertandingan ini memang kental dengan adu gengsi antar klub yang sudah asam garam di dunia persepakbolaan indonesia, mulai zaman perserikatan hingga sekarang. Konflik antar dua suporter dari masing-masing klub sering membuat pertandingan ini semakin memanas. Kedua klub sama-sama memiliki pemain-pemain berkualitas mulai dari pemain timnas junior, pemain timnas senir hingga mantan timnas sama-sama bermain untuk meraih kemenangan untuk menjaga nama baik klub yang dibelanya.
Sejarah kereta api di Indonesia
Kehadiran kereta api di Indonesia ditandai dengan pencangkulan pertama pembangunan jalan KA di desa Kemijen, Jum’at tanggal 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele. Pembangunan diprakarsai oleh “Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij” (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada hari Sabtu, 10 Agustus 1867.
Keberhasilan swasta, NV. NISM membangun jalan KA antara Kemijen - Tanggung, yang kemudian pada tanggal 10 Februari 1870 dapat menghubungkan kota Semarang - Surakarta (110 Km), akhirnya mendorong minat investor untuk membangun jalan KA di daerah lainnya. Tidak mengherankan, kalau pertumbuhan panjang jalan rel antara 1864 - 1900 tumbuh de-ngan pesat. Kalau tahun 1867 baru 25 Km, tahun 1870 menjadi 110 Km, tahun 1880 mencapai 405 Km, tahun 1890 menjadi 1.427 Km dan pada tahun 1900 menjadi 3.338 Km.
Selain di Jawa, pembangunan jalan KA juga dilakukan di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), bahkan tahun 1922 di Sulawasi juga telah dibangun jalan KA sepanjang 47 Km antara Makasar--Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal 1 Juli 1923, sisanya Ujungpandang - Maros belum sempat diselesaikan. Sedangkan di Kalimantan, meskipun belum sempat dibangun, studi jalan KA Pontianak - Sambas (220 Km) sudah diselesaikan. Demikian juga di pulau Bali dan Lombok, pernah dilakukan studi pembangunan jalan KA.
Sampai dengan tahun 1939, panjang jalan KA di Indonesia mencapai 6.811 Km. Tetapi, pada tahun 1950 panjangnya berkurang menjadi 5.910 km, kurang Iebih 901 Km raib, yang diperkirakan karena dibongkar semasa pendudukan Jepang dan diangkut ke Burma untuk pembangunan jalan KA di sana.
Jenis jalan rel KA di Indonesia semula dibedakan dengan lebar sepur 1.067 mm; 750 mm (di Aceh) dan 600 mm di beberapa lintas cabang dan tram kota. Jalan rel yang dibongkar semasa pendudukan Jepang (1942 - 1943) sepanjang 473 Km, sedangkan jalan KA yang dibangun semasa pendudukan Jepang adalah 83 km antara Bayah - Cikara dan 220 Km antara Muaro - Pekanbaru. Ironisnya, dengan teknologi yang seadanya, jalan KA Muaro - Pekanbaru diprogramkan selesai pembangunannya selama 15 bulan yang mempekerjakan 27.500 orang, 25.000 diantaranya adalah Romusha. Jalan yang melintasi rawa-rawa, perbukitan, serta sungai yang deras arusnya ini, banyak menelan korban yang makamnya bertebaran sepanjang Muaro- Pekanbaru.
Monumen Hari Kereta Api 28 September 1945 dan Lokomotif Uap D 52099
Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamir-kan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan KA yang tergabung dalam “Angkatan Moeda Kereta Api” (AMKA) mengambil alih kekuasa-an perkeretaapian dari pihak Jepang. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tanggal 28 September 1945. Pembacaan pernyataan sikap oleh Ismangil dan sejumlah anggota AMKA lainnya, menegaskan bahwa mulai tanggal 28 September 1945 kekuasaan perkeretaapian berada di tangan bangsa Indonesia. Orang Jepang tidak diperbolehkan campur tangan lagi urusan perkeretaapi-an di Indonesia. Inilah yang melandasi ditetapkannya 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api di Indonesia, serta dibentuknya “Djawatan Kereta Api Republik Indonesia” (DKARI).
Langganan:
Postingan (Atom)
